Rabu, 08 Juni 2016

ANALISIS NOVEL HAFALAN SHALAT DELISA KARYA TERE LIYE DENGAN PENDEKATAN MIMETIK






ANALISIS NOVEL HAFALAN SHALAT DELISA KARYA TERE LIYE DENGAN PENDEKATAN MIMETIK
Disusun untuk memenuhi tugas akhir Mata Kuliah Kritik Sastra
Dosen pengampu : Titi Puji Lestari


Disusun Oleh :
Malvica Diah Rossalia Ruslan
1513500031



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA
DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERISTAS PANCASAKTI TEGAL
2016




Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah
Universitas Pancasakti Tegal
2016
Malvica Diah Rossalia Ruslan
ABSTRAK

Kritik sastra didefinisikan sebagai penilaian terhadap baik atau tidaknya suatu karya sastra. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam mengritik suatu karya adalah pendekatan mimetik. Pendekatan mimetik menekankan bahwa karya sastra dianggap sebagai representasi (tiruan) dari dunia nyata. Melalui pendekatak mimetik, sebuah novel dapat dikaitkan dengan kehidupan  nyata. Berdasarkan hal tersebut maka analisis ini bertujuan untuk memaparkan aspek-aspek sosial dan religius yang terdapat dalam novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Tere Liye. Data yang diperoleh dari analisis tersebut berupa aspek-aspek sosial yang terkandung dalam novel seperti kehidupan Delisa setelah terjadinya bencana tsunami dan juga semangat Delisa untuk bengkit dan menjalani kembali kehidupannya. Sedangkan aspek religius dalam novel ini berupa penggambaran masyarakatnya yang kental dengan nuansa agama. Adapun masalah-masalah sosial yang muncul dalam novel tersebut seperti: 1) percintaan, 2) bencana tsunami Aceh, dan 3) semangat Delisa.

Kata kunci: pendekatan mimetik, aspek sosial, aspek religius









A.  PENDAHULUAN

1.    Latar Belakang
Kritik sastra bisa didefinisikan sebagai penilaian terhadap baik atau tidaknya suatu karya sastra. Kritik sastra itu bukan hanya terbatas pada penyuntingan penetapan teks, interpretasi, dan pertimbangan nilai, melainkan kritik sastra meliputi masalah yang lebih luas tentang apakah kesusastraan, untuk apa, dan bagaimana hubungannya dengan masalah-masalah kemanusiaan yang lain.
Sebagai sebuah disiplin ilmu, kritik sastra mengkaji hal-hal mengenai pendekatan serta penilaian tentang suatu karya sastra. Kritik sastra memiliki peran sebagai penilai apakah suatu karya sastra sudah dikatakan bernilai atau tidak. Nilai disini, dimaksudkan pada aspek kelayakan isi dalam lingkungan masyarakat dan ketepatan sasaran dari suatu karya sastra, baik novel, cerpen dan lainnya.
Salah satu yang dilakukan dalam mengritik suatu karya sastra adalah dengan melalui pendekatan mimetik. Pendekatan mimetik ini menganalisis sebuah karya sastra sebagai pencerminan, peniruan ataupun pembayangan realitas. Dasar pertimbangan pendekatan mimetik adalah dunia pengalaman, yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams dalam Pradopo 2002: 8). Pendekatan mimetik ini bisa diiplementasikan dalam mengritik karya sastra yang berupa novel.

2.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang muncul adalah bagaimanakah analisis novel Hafalan Shalat Delisa Karya Darwis Tere Liye dengan menggunakan pendekatan mimetik?

B.  PEMBAHASAN

1.    Teori kritik mimetik
Pandangan Plato tidak dapat dilepaskan dari keseluruhan pendirian filsafatnya mengenai kenyataan, yang bersifat hierarkis. Menurut Plato, ada beberapa tataran tentang Ada (“different planes of being”) yang masing-masing mencoba melahirkan nilai-nilai yang mengatasi tatarannya. Yang nyata secara mutlak hanya yang Baik, dan derajat kenyataan semesta bergantung pada derajat kedekatannya terhadap Ada yang abadi ( Teeuw dalam Verdenius, 1949: 16). Dunia empiris tidak mewakili kenyataan yang sungguh-sungguh, hanya dapat mendekatinya lewat mimesis, peneladanan atau pembayangan ataupun peniruan (sebab terjemahan kata mimesis tidak mudah), misalnya, pikiran dan nalar kita meneladani kenyataan, kata meniru benda, bunyi meniru keselarasan Ilahi, waktu meniru keabadian, hukum-hukum meniru kebenaran, pemerintahan manusia meniru pemerintahan ideal, manusia yang saleh meniru dewa-dewanya, dan seterusnya.
Seni hanya dapat meniru dan membayangkan hal-hal yang ada dalam kenyataan yang tampak, jadi berdiri di bawah kenyataan itu sendiri dalam hierarki. Sebab walaupun seni terikat pada tataran yang lebih rendah dari kenyataan yang tampak, namun seni yang sungguh-sungguh mencoba mengatasi kenyataan sehari-hari. Bagi Plato, tidak ada pertentangan antara realisme dan iddealisme dalam seni. Seni yang terbaik lewat mimesis, peneladanan kenyataan mengungkapkan sesuatu makna hakiki kenyataan itu. Dengan demikian, seni yang baik harus truthful (benar) dan seniman harus bersifat modest (rendah hati), dia harus tahu bahwa lewat seni dia hanya dapat mendekati yang ideal dari jauh dan serba salah. Lagi pula seniman cenderung mengimbau bukan rasio, nalar manusia, melainkan nafsu-nafsu dan emosinya yang menurut Plato justru harus ditekan. Seni menimbulkan nafsu sedangkan manusia yang berasio justru harus meredakan nafsunya.
Kritik sastra yang memandang bahwa karya sastra itu sebagai tiruan dari aspek-aspek alam, pencerminan atau penggambaran (representasi) tentang dunia dan kehidupannya. Kriteria utama yang dikenakan pada karya sastra adalah “kebenaran” representasi pada objek-objek yang digambarkan ataupun yang hendaknya digambarkan. Mimesis itu sendiri merupakan imitasi (tiruan) dari aspek-aspek yang ada di alam semesta. Jadi, ada dua hal yang saling berkaitan dalam mimesis, yaitu antara yang diimitasi (alam semesta, kehidupan, karya sastra) dan imitasinya (tiruannya, karya sastra baru yang merupakan hasil saduran, disebut ciptaan kembali atau versi gubahan baru).

2.    Sinopsis
Novel manis yang satu ini mengangkat kisah seorang bocah perempuan bermata hijau telaga yang baru berusia 6 tahun. Gadis cilik tersebut bernama Delisa. Ia merupakan anak bungsu di dalam keluarganya. Adapun kakak-kakan Delisa adalah Cut Fatimah, Cut Zahra dan juga Cut Aisyah. Keluarga Delisa berdomisili di Lhok Nga. Delisa dan saudara-saudaranya hanya tinggal bersama Ummi, sebab sang Abi bekerja sebagai mekanik kapal yang berbulan-bulan ikut di kapal yang berlayar. 
Meski merindu, tetapi Delisa tetap menjalani hari-hari mereka tanpa sang Abi. Suatu hari Delisa mendapat tugas dari sekolahnya. Tugas tersebut adalah menghafal bacaan salat. Delisa giat sekali menghapas bacaan-bacaan tersebut. Terlebih ummi menjanjikan ia hadiah jika Delisa berhasil menghafal baccan tersebut. Hadiah yang membuat Delisa semangat adalah kalung emas yang dijual di toko Ko Acan. Ko Acan sendiri merupakan sahabat Abi Delisa. 
Tanggal 26 Desember tahun 2004, Delisa dan semua teman seisi kelasnya dijadwalkan mempraktekkan hafalan solat yang telah mereka hapalkan beberapa waktu. Saat tiba giliran Delisa, sembari mengucapkan bacaan solat, tiba-tiba bumi bergetar hebat. Semua tampak gonjang ganjing. Dan seketika, air laut mulai naik ke daratan dengan ganasnya. Ia bagai tangan raksasa yang merengkuh segala yang ia jumpai. Bencana tersebut adalah gempa hebat yang disusul tsunami. Kurang lebih 15.000 orang yang meninggal akibat bencana ini. Termasuk di dalamnya Ummi dan kakak-kakan Delisa. 
Delisa sendiri selamat. Ia tersangkut di semak belukar. Siku kanan bocah tersebut patah dan kakinya bagian kanannya terjepit di bebatuan. Setelah 6 hari terjebak di tempat terebur, Delisa kemudian ditemukan oleh seorang prajurit relawan bernama Smith. Delisa yang dilihatnya sangat bercahaya kemudian membawa prajurit tersebut untuk masuk Islam. 
Karena suasana yang kacau balau, Abi yang telah mengetahui bencana tersebut tak bisa menemukan Delisa. Ia menghabiskan beberapa waktu sebelum akhirnya bertemu gadis mungilnya. Saat bertemu Abinya, Delisa bercerita layaknya anak-anak yang tak mengerti apa-apa. Bencana tak menghapus keceriannya. Termasuk saat kaki kanan Delisa harus diamputasi, semuanya tak berhasil membuat ia murung. Ia bersama Abi menjalani hidupnya. menata dari awal. Meski jasad Ummi dan ketiga kakaknya belum ditemukan, tapi Delisa dan Abi harus hidup normal, begitu pikirnya.
Suatu waktu Delisa melihat ada sebuah pantulan cahaya yang mengganggu penglihatannya. Karena penasaran, Delisa pun mendekat. Dan tak disangka, cahaya tersebut merupakan pantulan kalung dengan huruf D. Dan kalung tersebut berada dalam pegangan seseorang. Ummi Delisa sendiri. 

3.    Analisis
Analisis pendekatan mimetik dalam novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Darwis Tere Liye disusun berdasarkan sistematika pembahasan yaitu: 1) identifikasi aspek sosial dan religi dalam novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Darwis Tere Liye, 2) analisis aspek sosial dan religi dalam novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Darwis Tere Liye, 3) membuktikan aspek sosial dan religi sebagai bentuk peniruan dari kehidupan nyata dalam novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Darwis Tere Liye, 4) analisis aspek sosial dan religi dalam novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Darwis Tere Liye yang dihubungkan dengan dunia nyata.
Dalam novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Darwis Tere Liye, dapat ditemukan masalah-masalah sosial seperti: 1) percintaan 2) bencana tsunami Aceh 3) semangat Delisa setelah terjadinya bencana tsunami. Selain itu, dalam novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Darwis Tere Liye juga terkandung aspek religius.
Aspek Sosial
1.    Percintaan
Masalah percintaan yang muncul dalam novel ini antara lain:
a.    Cinta Delisa kepada Ummi
Rasa cinta Delisa kepada Umminya sangat tulus karena Allah. Hal ini dapat dilihat dari penggalan novel berikut ini, “Delisa… D-e-l-i-s-a cinta Ummi… Delisa c-i-n-t-a Ummi karena Allah !” ia pelan sekali mengatakan itu” (Tere Liye 2008: 67).
b.    Cinta Ummi kepada Delisa
Rasa cinta Ummi kepada Delisa sangat tulus karena Allah. Hal ini dapat dilihat dari penggalan novel berikut ini, “U-m-m-i juga cinta sekali Delisa…. U-m-m-i c-i-n-t-a Delisa karena Allah” Umi Salamah terisak memeluk bungsunya” (Tere Liye 2008: 67).
c.    Cinta Delisa kepada Abi
Rasa cinta Delisa kepada Abinya sangat tulus karena Allah. Hal ini dapat dilihat dari penggalan novel berikut ini, “Abi…A-b-i… D-e-l-i-s-a c-i-n-t-a Abi karena Allah! Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Delisa” (Tere Liye 2008: 228).
d.   Cinta Abi kepada Delisa
Rasa cinta Abi kepada Delisa sangat tulus karena Allah. Hal ini dapat dilihat dari penggalan novel berikut ini, “Abi juga cinta Delisa…. A-b-i juga cinta Delisan karena Allah!.....” (Tere Liye 2008: 229).
2.    Bencana tsunami Aceh
Realisasi dalam novel ini jelas terlihat saat penulis menceritakan bagaimana bencana tsunami memorak-porandakan Lhok Nga. Penggambaran ini diambil dari kejadian sesungguhnya, yaitu tsunami Aceh pada tanggal 26 Desember 2004. Bagaimana huru-hara yang terjadi selama peristiwa tersebut. Mulai dari gempa yang terjadi, sampai akhirnya tsunami menyapu Lhok Nga. Hal ini dapat dilihat dari penggalan novel berikut ini, “Gempa berkekuatan 8.9 skala richter menghantam bagian utara pulau Sumatera, Indonesia. Banda Aceh, Sumatera Utara dan sekitarnya. Konfirmasi terakhir mengatakan sekitar 3.000 orang meninggal….” (Tere Liye 2008: 95).
3.    Semangat Delisa
Setelah terjadinya bencana tsunami yang banyak memakan korban jiwa, Delisa tetap bersemangat melanjutkan kehidupannya. Meskipun sebelah kakinya telah diamputasi karena bencana tersebut. Hal ini dapat dilihat dari penggalan novel berikut, “Aku boleh main kan meski pakai kurk ini”, Delisa menyeringai mendekat, berdiri di depan Umam..” (Tere Liye 2008:185). Ini terlihat juga pada penggalan novel berikut “Bagi Delisa kehidupan sudah kembali. Bagi Delisa semua ini sudah berlalu. Bagi Delisa hari lalu sudah tutup buku. Ia siap meneruskan kehidupan. Tak ada yang perlu dicemaskan. Tak ada yang perlu ditakutkan. Delisa siap menyambung kehidupan, meski sedikit pun ia belum mengerti apa itu hakikat hidup dan kehidupan” (Tere Liye 2008: 186).
Kisah Delisa dalam novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Tere Liye pada kenyataannya pun terjadi di kehidupan nyata. Bagaimana bencana tsunami menyerang Aceh, banyaknya korban bencana yang meninggal, juga anak-anak yang kehilangan orang tuanya. Tokoh Delisa pun menjadi salah satu dari benyaknya korban anak-anak yang kehilangan orang tuanya. Namun dengan semangat yang tinggi ia mampu bangkit kembali.  

Aspek Religius
Aspek religius yang terdapat dalam novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Tere Liye ini, dapat dibuktikan dari penggalan novel berikut ini, “Adzan shubuh dari meunasah terdengar syahdu. Bersahutan satu sama lain. Menggentarkan langit-langit Lhok Nga yang masih gelap. Jangan salah, gelap-gelap begini kehidupan sudah dimulai. Remaja tanggung sambil menguap menahan kantuk mengambil wudhu. Anak lelaki bergegas menjamah sarung dan kopiah. Anak gadis menjumput lipatan mukena putih dari atas meja. Bapak-bapak membuka pintu rumah menuju meunasah. Ibu-ibu membimbing anak kecilnya bangun shalat berjamaah” (Tere Liye 2008: 9).
Pengggalan novel tersebut menunjukkan bahwa keadaan masyarakatnya sangat kental dengan nuansa agama. Hal itu juga sesuai dengan keadaan sesungguhnya yang juga menjunjung tinggi nilai-nilai agama.
Selain itu, dalam novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Tere Liye juga mengisahkan seorang ibu, yaitu Ummi Delisa yang mengajarkan ayat-ayat Al-Qur’an kepada anaknya, Delisa. Hal ini dapat dilihat dari penggalan nove berikut ini “Ummi menunjuk //juz’amma// lagi. Delisa melanjutkan setorannya” (Tere Liye 2008: 17). Dalam novel ini juga seorang anak perempuan sudah diajarkan untuk memakai kerudung. Hal ini dapat dilihat dari penggalan novel berikut ini “Delisa, kamu kok belum pakai kerudung?” (Tere Liye 2008: 25).
Apabila novel tersebut dikaitkan dengan kehidupan nyata, maka setiap orang tua pasti mengenalkan nilai-nilai agama kepada anak-anaknya. Kemudian bagaimana orang tua membimbing anak-anaknya agar selalu paruh terhadap ajaran agama yang dianutnya.

C.  SIMPULAN
Karya sastra dianggap sebagai penggambaran dari kehidupan nyata yang disisipi oleh daya imajinasi. Pengarang berusaha untuk menampilkan keadaan yang sesungguhnya pada para pembaca melalui tulisan. Pada novel “Hafalan Salat Delisa” ini ditampilkan sosok Delisa yang memiliki semangat tinggi meskipun sebelah kakinya diamputasi karena bencana tsunami.
Menurut Plato Teori mimetik adalah teori sastra yang melihat karya sastra sebagai cerminan dari kehidupan dunia nyata. Mimesis itu sendiri merupakan imitasi (tiruan) dari aspek-aspek yang ada di alam semesta.
Dalam analisis pendekatan mimetik novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Tere Liye ini ditemukan aspek-aspek sosial dan aspek religius. Aspek sosial tersebut diantaranya kehidupan Delisa setelah terjadinya bencana tsunami dan juga semangat Delisa untuk bengkit dan menjalani kembali kehidupannya. Sedangkan aspek religius dalam novel ini berupa penggambaran masyarakatnya yang kental dengan nuansa agama.
Novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Tere Liye juga mengangkat masalah-masalah sosial yang saat itu muncul dimasyarakat Aceh. Adapun  masalah-masalah sosial tersebut antara lain: 1) percintaan, 2) bencana tsunami Aceh, dan 3) semangat Delisa.

DAFTAR PUSTAKA
Liye, Tere.2008.Hafalan Shalat Delisa.Jakarta: Republika
Pradopo, Rachmat Joko.2002. Kritik Sastra Indonesia Modern.Yogyakarta: Gama Media
Suroso, dkk.2009.Kritik Sastra Teori, Metodologi, dan Aplikasi.Yogyakarta: Elmatera Publishing
Teeuw.2003.Sastera dan Ilmu Sastra.Jakarta: Pustaka Jaya


Tidak ada komentar:

Posting Komentar