ANALISIS
NOVEL HAFALAN SHALAT DELISA
KARYA TERE LIYE DENGAN PENDEKATAN MIMETIK
Disusun untuk memenuhi
tugas akhir Mata Kuliah Kritik Sastra
Dosen pengampu : Titi
Puji Lestari
Disusun Oleh :
Malvica Diah
Rossalia Ruslan
1513500031
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA
DAN
DAERAH
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERISTAS
PANCASAKTI TEGAL
2016
Program
Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah
Universitas
Pancasakti Tegal
2016
Malvica Diah
Rossalia Ruslan
ABSTRAK
Kritik
sastra didefinisikan sebagai penilaian terhadap baik atau tidaknya suatu karya
sastra. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam mengritik suatu karya adalah
pendekatan mimetik. Pendekatan mimetik menekankan bahwa karya sastra dianggap
sebagai representasi (tiruan) dari dunia nyata. Melalui pendekatak mimetik,
sebuah novel dapat dikaitkan dengan kehidupan
nyata. Berdasarkan hal tersebut maka analisis ini bertujuan untuk
memaparkan aspek-aspek sosial dan religius yang terdapat dalam novel “Hafalan
Shalat Delisa” karya Tere Liye. Data yang diperoleh dari analisis tersebut
berupa aspek-aspek sosial yang terkandung dalam novel seperti kehidupan Delisa
setelah terjadinya bencana tsunami dan juga semangat Delisa untuk bengkit dan
menjalani kembali kehidupannya. Sedangkan aspek religius dalam novel ini berupa
penggambaran masyarakatnya yang kental dengan nuansa agama. Adapun
masalah-masalah sosial yang muncul dalam novel tersebut seperti: 1) percintaan,
2) bencana tsunami Aceh, dan 3) semangat Delisa.
Kata kunci:
pendekatan mimetik, aspek sosial, aspek religius
A.
PENDAHULUAN
1. Latar
Belakang
Kritik
sastra bisa didefinisikan sebagai penilaian terhadap baik atau tidaknya suatu
karya sastra. Kritik
sastra itu bukan hanya terbatas pada penyuntingan penetapan teks, interpretasi,
dan pertimbangan nilai, melainkan kritik sastra meliputi masalah yang lebih
luas tentang apakah kesusastraan, untuk apa, dan bagaimana hubungannya dengan
masalah-masalah kemanusiaan yang lain.
Sebagai
sebuah disiplin ilmu, kritik sastra mengkaji hal-hal mengenai pendekatan serta
penilaian tentang suatu karya sastra. Kritik sastra memiliki peran sebagai
penilai apakah suatu karya sastra sudah dikatakan bernilai atau tidak. Nilai
disini, dimaksudkan pada aspek kelayakan isi dalam lingkungan masyarakat dan
ketepatan sasaran dari suatu karya sastra, baik novel, cerpen dan lainnya.
Salah satu yang dilakukan dalam mengritik suatu karya
sastra adalah dengan melalui pendekatan mimetik. Pendekatan mimetik ini
menganalisis sebuah karya sastra sebagai pencerminan, peniruan ataupun
pembayangan realitas. Dasar pertimbangan pendekatan
mimetik adalah dunia
pengalaman,
yaitu karya sastra itu
sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams dalam Pradopo 2002: 8).
Pendekatan mimetik ini bisa diiplementasikan dalam
mengritik karya sastra yang berupa novel.
2. Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang muncul adalah bagaimanakah
analisis novel Hafalan Shalat Delisa Karya
Darwis Tere Liye dengan menggunakan pendekatan
mimetik?
B.
PEMBAHASAN
1. Teori
kritik mimetik
Pandangan Plato tidak dapat dilepaskan
dari keseluruhan pendirian filsafatnya mengenai kenyataan, yang bersifat
hierarkis. Menurut Plato, ada beberapa tataran tentang Ada (“different planes of being”) yang
masing-masing mencoba melahirkan nilai-nilai yang mengatasi tatarannya. Yang
nyata secara mutlak hanya yang Baik, dan derajat kenyataan semesta bergantung
pada derajat kedekatannya terhadap Ada yang abadi ( Teeuw dalam Verdenius,
1949: 16). Dunia empiris tidak mewakili kenyataan yang sungguh-sungguh, hanya
dapat mendekatinya lewat mimesis,
peneladanan atau pembayangan ataupun peniruan (sebab terjemahan kata mimesis
tidak mudah), misalnya, pikiran dan nalar kita meneladani kenyataan, kata
meniru benda, bunyi meniru keselarasan Ilahi, waktu meniru keabadian,
hukum-hukum meniru kebenaran, pemerintahan manusia meniru pemerintahan ideal, manusia
yang saleh meniru dewa-dewanya, dan seterusnya.
Seni hanya dapat meniru dan membayangkan
hal-hal yang ada dalam kenyataan yang tampak, jadi berdiri di bawah kenyataan
itu sendiri dalam hierarki. Sebab walaupun seni terikat pada tataran yang lebih
rendah dari kenyataan yang tampak, namun seni yang sungguh-sungguh mencoba
mengatasi kenyataan sehari-hari. Bagi Plato, tidak ada pertentangan antara
realisme dan iddealisme dalam seni. Seni yang terbaik lewat mimesis,
peneladanan kenyataan mengungkapkan sesuatu makna hakiki kenyataan itu. Dengan
demikian, seni yang baik harus truthful (benar)
dan seniman harus bersifat modest
(rendah hati), dia harus tahu bahwa lewat seni dia hanya dapat mendekati yang
ideal dari jauh dan serba salah. Lagi pula seniman cenderung mengimbau bukan
rasio, nalar manusia, melainkan nafsu-nafsu dan emosinya yang menurut Plato
justru harus ditekan. Seni menimbulkan nafsu sedangkan manusia yang berasio
justru harus meredakan nafsunya.
Kritik sastra yang memandang bahwa karya
sastra itu sebagai tiruan dari
aspek-aspek alam, pencerminan atau penggambaran (representasi) tentang dunia
dan kehidupannya. Kriteria utama yang dikenakan pada karya sastra adalah
“kebenaran” representasi pada objek-objek yang digambarkan ataupun yang
hendaknya digambarkan. Mimesis itu sendiri merupakan imitasi (tiruan) dari
aspek-aspek yang ada di alam semesta. Jadi, ada dua hal yang saling berkaitan
dalam mimesis, yaitu antara yang diimitasi (alam semesta, kehidupan, karya
sastra) dan imitasinya (tiruannya, karya sastra baru yang merupakan hasil
saduran, disebut ciptaan kembali atau versi gubahan baru).
2. Sinopsis
Novel manis yang satu ini mengangkat kisah seorang
bocah perempuan bermata hijau telaga yang baru berusia 6 tahun. Gadis cilik
tersebut bernama Delisa. Ia merupakan anak bungsu di dalam keluarganya. Adapun
kakak-kakan Delisa adalah Cut Fatimah, Cut Zahra dan juga Cut Aisyah. Keluarga
Delisa berdomisili di Lhok Nga. Delisa dan saudara-saudaranya hanya tinggal
bersama Ummi, sebab sang Abi bekerja sebagai mekanik kapal yang berbulan-bulan
ikut di kapal yang berlayar.
Meski merindu, tetapi Delisa tetap menjalani hari-hari
mereka tanpa sang Abi. Suatu hari Delisa mendapat tugas dari sekolahnya. Tugas
tersebut adalah menghafal bacaan salat. Delisa giat sekali menghapas
bacaan-bacaan tersebut. Terlebih ummi menjanjikan ia hadiah jika Delisa
berhasil menghafal baccan tersebut. Hadiah yang membuat Delisa semangat adalah
kalung emas yang dijual di toko Ko Acan. Ko Acan sendiri merupakan sahabat Abi
Delisa.
Tanggal 26 Desember tahun 2004, Delisa dan semua teman
seisi kelasnya dijadwalkan mempraktekkan hafalan solat yang telah mereka
hapalkan beberapa waktu. Saat tiba giliran Delisa, sembari mengucapkan bacaan
solat, tiba-tiba bumi bergetar hebat. Semua tampak gonjang ganjing. Dan
seketika, air laut mulai naik ke daratan dengan ganasnya. Ia bagai tangan
raksasa yang merengkuh segala yang ia jumpai. Bencana tersebut adalah gempa
hebat yang disusul tsunami. Kurang lebih 15.000 orang yang meninggal akibat
bencana ini. Termasuk di dalamnya Ummi dan kakak-kakan Delisa.
Delisa sendiri selamat. Ia tersangkut di semak
belukar. Siku kanan bocah tersebut patah dan kakinya bagian kanannya terjepit
di bebatuan. Setelah 6 hari terjebak di tempat terebur, Delisa kemudian
ditemukan oleh seorang prajurit relawan bernama Smith. Delisa yang dilihatnya
sangat bercahaya kemudian membawa prajurit tersebut untuk masuk Islam.
Karena suasana yang kacau balau, Abi yang telah
mengetahui bencana tersebut tak bisa menemukan Delisa. Ia menghabiskan beberapa
waktu sebelum akhirnya bertemu gadis mungilnya. Saat bertemu Abinya, Delisa
bercerita layaknya anak-anak yang tak mengerti apa-apa. Bencana tak menghapus
keceriannya. Termasuk saat kaki kanan Delisa harus diamputasi, semuanya tak
berhasil membuat ia murung. Ia bersama Abi menjalani hidupnya. menata dari
awal. Meski jasad Ummi dan ketiga kakaknya belum ditemukan, tapi Delisa dan Abi
harus hidup normal, begitu pikirnya.
Suatu waktu Delisa melihat ada sebuah pantulan cahaya
yang mengganggu penglihatannya. Karena penasaran, Delisa pun mendekat. Dan tak
disangka, cahaya tersebut merupakan pantulan kalung dengan huruf D. Dan kalung
tersebut berada dalam pegangan seseorang. Ummi Delisa sendiri.
3. Analisis
Analisis pendekatan mimetik
dalam novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Darwis Tere Liye disusun berdasarkan
sistematika pembahasan yaitu: 1) identifikasi aspek sosial dan religi dalam
novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Darwis Tere Liye, 2) analisis aspek sosial
dan religi dalam novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Darwis Tere Liye, 3)
membuktikan aspek sosial dan religi sebagai bentuk peniruan dari kehidupan
nyata dalam novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Darwis Tere Liye, 4) analisis
aspek sosial dan religi dalam novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Darwis Tere
Liye yang dihubungkan dengan dunia nyata.
Dalam novel “Hafalan Shalat
Delisa” karya Darwis Tere Liye, dapat ditemukan masalah-masalah sosial seperti:
1) percintaan 2) bencana tsunami Aceh 3) semangat Delisa setelah terjadinya
bencana tsunami. Selain itu, dalam novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Darwis
Tere Liye juga terkandung aspek religius.
Aspek Sosial
1.
Percintaan
Masalah percintaan yang muncul dalam novel ini antara
lain:
a. Cinta
Delisa kepada Ummi
Rasa cinta Delisa kepada Umminya sangat tulus karena Allah.
Hal ini dapat dilihat dari penggalan novel berikut ini, “Delisa… D-e-l-i-s-a
cinta Ummi… Delisa c-i-n-t-a Ummi karena Allah !” ia pelan sekali mengatakan
itu” (Tere Liye 2008: 67).
b. Cinta
Ummi kepada Delisa
Rasa cinta Ummi kepada Delisa sangat tulus karena Allah.
Hal ini dapat dilihat dari penggalan novel berikut ini, “U-m-m-i juga cinta
sekali Delisa…. U-m-m-i c-i-n-t-a Delisa karena Allah” Umi Salamah terisak
memeluk bungsunya” (Tere Liye 2008: 67).
c. Cinta
Delisa kepada Abi
Rasa cinta Delisa kepada Abinya sangat tulus karena
Allah. Hal ini dapat dilihat dari penggalan
novel berikut ini,
“Abi…A-b-i… D-e-l-i-s-a c-i-n-t-a Abi karena Allah! Kalimat itu meluncur begitu
saja dari mulut Delisa” (Tere Liye 2008: 228).
d. Cinta
Abi kepada Delisa
Rasa cinta Abi kepada Delisa sangat tulus karena Allah.
Hal ini dapat dilihat dari penggalan novel berikut ini, “Abi juga cinta
Delisa…. A-b-i juga cinta Delisan karena Allah!.....” (Tere Liye 2008: 229).
2.
Bencana tsunami
Aceh
Realisasi dalam novel ini jelas terlihat saat penulis
menceritakan bagaimana bencana tsunami memorak-porandakan Lhok Nga.
Penggambaran ini diambil dari kejadian sesungguhnya, yaitu tsunami Aceh pada
tanggal 26 Desember 2004. Bagaimana huru-hara yang
terjadi selama peristiwa tersebut. Mulai dari gempa yang terjadi, sampai
akhirnya tsunami menyapu Lhok Nga. Hal ini dapat dilihat
dari penggalan novel berikut ini,
“Gempa berkekuatan 8.9 skala richter menghantam bagian utara pulau Sumatera,
Indonesia. Banda Aceh, Sumatera Utara dan sekitarnya. Konfirmasi terakhir
mengatakan sekitar 3.000 orang meninggal….” (Tere Liye 2008: 95).
3.
Semangat Delisa
Setelah terjadinya bencana
tsunami yang banyak memakan korban jiwa, Delisa tetap bersemangat melanjutkan
kehidupannya. Meskipun sebelah kakinya telah diamputasi karena bencana tersebut.
Hal ini dapat dilihat dari penggalan novel berikut, “Aku boleh main kan
meski pakai kurk ini”, Delisa menyeringai mendekat, berdiri di depan Umam..”
(Tere Liye 2008:185). Ini terlihat juga pada penggalan novel berikut “Bagi
Delisa kehidupan sudah kembali. Bagi Delisa semua ini sudah berlalu. Bagi
Delisa hari lalu sudah tutup buku. Ia siap meneruskan kehidupan. Tak ada yang
perlu dicemaskan. Tak ada yang perlu ditakutkan. Delisa siap menyambung
kehidupan, meski sedikit pun ia belum mengerti apa itu hakikat hidup dan
kehidupan” (Tere Liye 2008: 186).
Kisah
Delisa dalam novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Tere Liye pada kenyataannya pun terjadi di kehidupan nyata.
Bagaimana bencana tsunami menyerang Aceh, banyaknya korban bencana yang
meninggal, juga anak-anak yang kehilangan orang tuanya. Tokoh Delisa pun menjadi salah satu dari benyaknya
korban anak-anak yang kehilangan orang tuanya. Namun dengan semangat yang
tinggi ia mampu bangkit kembali.
Aspek Religius
Aspek religius yang terdapat
dalam novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Tere Liye ini, dapat dibuktikan dari
penggalan novel berikut ini,
“Adzan shubuh dari meunasah terdengar syahdu. Bersahutan satu sama lain.
Menggentarkan langit-langit Lhok Nga yang masih gelap. Jangan salah, gelap-gelap
begini kehidupan sudah dimulai. Remaja tanggung sambil menguap menahan kantuk
mengambil wudhu. Anak lelaki bergegas menjamah sarung dan kopiah. Anak gadis
menjumput lipatan mukena putih dari atas meja. Bapak-bapak membuka pintu rumah
menuju meunasah. Ibu-ibu membimbing anak kecilnya bangun shalat berjamaah”
(Tere Liye 2008: 9).
Pengggalan novel tersebut
menunjukkan bahwa keadaan masyarakatnya sangat kental dengan nuansa agama. Hal
itu juga sesuai dengan keadaan sesungguhnya yang juga menjunjung tinggi nilai-nilai
agama.
Selain itu, dalam novel “Hafalan Shalat
Delisa” karya Tere Liye juga mengisahkan
seorang ibu, yaitu Ummi Delisa yang mengajarkan ayat-ayat Al-Qur’an kepada
anaknya, Delisa. Hal ini dapat dilihat dari
penggalan nove berikut ini “Ummi menunjuk //juz’amma// lagi. Delisa melanjutkan
setorannya” (Tere Liye 2008: 17). Dalam novel ini juga seorang
anak perempuan sudah diajarkan untuk memakai kerudung.
Hal ini dapat dilihat dari penggalan novel berikut ini “Delisa, kamu kok belum
pakai kerudung?” (Tere Liye 2008: 25).
Apabila
novel tersebut dikaitkan dengan
kehidupan nyata, maka setiap orang
tua pasti mengenalkan nilai-nilai agama kepada anak-anaknya. Kemudian bagaimana orang tua membimbing anak-anaknya
agar selalu paruh terhadap ajaran agama yang dianutnya.
C.
SIMPULAN
Karya sastra dianggap sebagai
penggambaran dari kehidupan nyata yang disisipi oleh daya imajinasi. Pengarang
berusaha untuk menampilkan keadaan yang sesungguhnya pada para pembaca melalui
tulisan. Pada novel “Hafalan Salat Delisa” ini ditampilkan sosok Delisa yang
memiliki semangat tinggi meskipun sebelah kakinya diamputasi karena bencana
tsunami.
Menurut Plato Teori
mimetik adalah teori sastra yang melihat karya sastra sebagai cerminan dari
kehidupan dunia nyata. Mimesis itu sendiri merupakan
imitasi (tiruan) dari aspek-aspek yang ada di alam semesta.
Dalam analisis pendekatan
mimetik novel “Hafalan Shalat Delisa” karya Tere Liye ini ditemukan aspek-aspek
sosial dan aspek religius. Aspek sosial tersebut diantaranya kehidupan Delisa
setelah terjadinya bencana tsunami dan juga semangat Delisa untuk bengkit dan
menjalani kembali kehidupannya. Sedangkan aspek religius dalam novel ini berupa
penggambaran masyarakatnya yang kental dengan nuansa agama.
Novel “Hafalan Shalat Delisa”
karya Tere Liye juga mengangkat masalah-masalah sosial yang saat itu muncul
dimasyarakat Aceh. Adapun
masalah-masalah sosial tersebut antara lain: 1) percintaan, 2) bencana
tsunami Aceh, dan 3) semangat Delisa.
DAFTAR PUSTAKA
_.2014.http://sinopsisnovelku.blogspot.com/2013/05/sinopsis-novel-hafalan-salat-delisa.htm.17-12-2015
Liye, Tere.2008.Hafalan
Shalat Delisa.Jakarta: Republika
Pradopo,
Rachmat Joko.2002. Kritik Sastra
Indonesia Modern.Yogyakarta:
Gama Media
Suroso,
dkk.2009.Kritik Sastra Teori, Metodologi,
dan Aplikasi.Yogyakarta: Elmatera Publishing
Teeuw.2003.Sastera dan Ilmu Sastra.Jakarta: Pustaka
Jaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar