Rabu, 08 Juni 2016

CERITA



BERITA

Senin pagi kemarin, 24 Agustus 2015, sebuah sepeda motor menabrak pohon besar di pinggir jalan. Kecelakaan yang terjadi di Jalan Raya Slerok ini merenggut korban jiwa, seorang pelajar SMA N 3. Menurut saksi mata, sebelumnya motor yang ditumpangi korban melaju sangat cepat dan oleng kemudian menabrak pohon untuk menghindari truk yang melintas berlawanan arah.

Suara penyiar berita televisi memenuhi ruang tengah tersebut. Seorang wanita berusia sekitar 40-an tengah bolak-balik di dapur. Tidak adanya sekat yang memisahkan dua ruang tersebut, membuat ia bisa mendengar jelas laporan yang sedang dibacakan oleh pembawa berita. Sembari menyeduh teh hangat, matanya sesekali melirik ke arah televisi. Terdengar helaan nafas panjang yang keluar dari mulutnya.
Seorang pemuda dengan seragam khas SMA, keluar dari kamarnya. Ia melirik sang ibu yang berkutat dengan sesuatu entah apa –menurutnya, sebelum melenggang ke arah sofa di ruang tengah. Mendecih melihat apa yang tengah ditonton ibunya, pemuda itu mengganti channel televisi sesuai dengan acara kesukaannya.
“Kamu itu, kalau ada orang tua nonton TV jangan disela”, ucap wanita yang tampaknya sudah selesai dengah seduhan tehnya. Ia berjalan menghampiri meja makan dan mulai menata piring untuk sarapan. “Kamu nggak sarapan?”, tanyanya kemudian.
“Iya”, jawab pemuda yang masih berkutat dengan channel televisi.
“Kamu lihat berita tadi?”
“Berita apa?”
“Makanya sering nonton berita, jangan kartun terus.”
Tak menghiraukan omongan ibunya, ia malah berjalan ke arah meja makan. Digesernya salah satu kursi disana, sebelum kembali mendengar ibunya melanjutkan bicara.
“Kalau mau sekolah hati-hati. Banyak kecelakaan sekarang. Jalanan ramai terus. Apalagi kamu pakai motor.”
“Itukan karena nggak hati-hati bu, lagian sekolahku kan deket”, jawab si pemuda sambil menyantap makanannya.
“Makanya kamu juga hati-hati. Kalau bisa jangan mepet kalau mau berangkat. Jalan penuh.”
“Iya bu.”
Jarum panjang jam dinding di ruang tamu menunjuk angka 10, sedangkan jarum pendek ada pada angka 6. Pukul 6:50. Jam tujuh kurang sepuluh menit. Andi baru saja mengeluarkan motor bebeknya dari rumah. Dengan santai ia memanaskan masin motornya. Seragamnya rapi. Ransel hitam sudah tersampir di pundaknya. Tak lupa helm merek terkenal tersemat di kepalanya. Ia sudah siap berangkat sekolah.
Deru motor mampir di indra pendengaran Rohmah. Ia berlari keluar saat mendengar kalau mesin motor tersebut berasal dari halaman rumahnya.
“Kamu mau berangkat jam berapa?”, ujarnya saat sampai di pintu depan.
“Bentar lagi.”
“Bentar laginya jam berapa? Ini sudah siang. Kamu mau terlambat?”
“Ih... bu di sekolah juga masih sepi.”
“Sepi bukan berarti nggak ada orang Ndi?”
“Ibu tenang aja, nggak akan terlambat kok!”
“Tapi kan lebih baik berangkat awal. Daripada kebut-kebutan di jalan. Jam sekarang itu jalanan ramai, banyak anak sekolah yang ngebut juga. Kalau nggak hati-hati nanti celaka.”
“Bu.. sekolah Andi itu deket. Ibu tenang aja deh.”
“Kamu itu kalau dibilangin ngeyel. Ibu itu khawa..”
“Iya bu iya... Andi berangkat. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam.”
Rohmah hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan putranya. Memang susah kalau diajak bicara, fikirnya. Ia tatap keberangkatan Andi ke sekolahnya sampai hilang di tikungan. Sebenarnya bukan kali ini saja ia menasehati Andi agar berangkat lebih awal. Kemarin bahkan ia sampai ribu dengan anaknya agar mau berangkat pagi. Namun dasar Andi, omongan seperti itu hanya berlaku kemarin saja. Kadang ia berfikir, apa karena sekarang Andi berangkat dengan motor, makanya lebih suka berangkat siang.
Menghela nafas lagi, ia berbalik dan kembali ke pekerjaannya. Tugas ibu rumah tangga. Tapi, belum sampai lima menit, suara seseorang yang berteriak dari arah depan memecah konsentrasinya. Dengan sedikit penasaran ia pun keluar, meninggalkan sapu di samping sofa ruang tengah.
“Rohmah...”
“Wak Idin. Ada apa?”
“Andi... Andi...”
“Andi kenapa?”
“Ayo ikut!”, ucap seseorang yang dipanggil Wak Idin. Tangannya meraih tangan Rohmah dan menariknya. Rohmah yang kaget hanya kebingungan sembari mengikuti langkah orang yang menariknya.
“Andi?”. Matanya terbelalak begitu sampai di tempat tujuan. Tubuhnya lemas. Ia ambruk di sebelah tetangganya. Nafasnya seolah berhenti melihat kejadian dihadapannya. Otaknya mencerna dengan lambat peristiwa tersebut. Andi terkapar penuh darah di samping pohon besar di pinggir jalan. Motor yang tadi ditumpanginya menindih kaki kirinya.
Tak bisa bicara apa-apa. suara Rohmah seperti tertelan begitu saja. Air mata tak bisa dibendung lagi Rohmah menangis keras. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihanya. Samar-samar beberapa suara lewat telinganya. Ada yang yang menelefon ambulan. Ada yang bertanya penasaran. Juga suara yang lamat-lamat mencoba menenangkan jiwanya.
“Kamu sabar yah..”
“Kenapa...”, sebuah suara lain.
“Andi kecelakaan”, kembali sebuah suara berbisik.
“Iya, ada truk dari sana. Kayaknya sih mau menghindar. Tapi motornya oleng, terus nabrak pohon.”
Suara itu tidak keras tapi cukup membuat seluruh tubuhnya membeku kaku. Ingatannya kembali pada berita pagi tadi. Ia benar-benar syok sekarang. Matanya melotot melihat tubuh Andi yang terbujur kaku dihadapannya. Air matanya semaki deras.
“Apa ini...?”, ucapnya sebelum kegelapan mengambil alih kesadarannya.
*****
Selasa pagi kemarin, 25 Agustus 2015, sebuah sepeda motor menabrak pohon besar di pinggir jalan. Kecelakaan yang terjadi di Jalan Raya Kemantra ini merenggut korban jiwa, seorang pelajar SMA N 1. Menurut saksi mata, sebelumnya motor yang ditumpangi korban melaju sangat cepat dan oleng kemudian menabrak pohon untuk menghindari truk yang melintas berlawanan arah.
SEKIAN



 

Malvica Diah Rossalia Ruslan. Lahir di Tegal, 15 Desember 1995. Sekarang sedang menempuh pendidikan tinggi di Universitas Pancasakti Tegal, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Progdi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah. Tinggal di dukuh Pener desa Kertaharja rt 01/III Kramat-Tegal. Menyukai karya sastra berupa cerpen dan puisi sejak duduk dibangku sekolah dasar. Nomor telepon: 085647031308. Alamat e-mail: malvicaruslani@yahoo.co.id atau malvicadiah@gmail.com.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar