BERITA
Senin pagi kemarin, 24 Agustus 2015,
sebuah sepeda motor menabrak pohon besar di pinggir jalan. Kecelakaan yang
terjadi di Jalan Raya Slerok ini merenggut korban jiwa, seorang pelajar SMA N 3.
Menurut saksi mata, sebelumnya motor yang ditumpangi korban melaju sangat cepat
dan oleng kemudian menabrak pohon untuk menghindari truk yang melintas
berlawanan arah.
Suara
penyiar berita televisi memenuhi ruang tengah tersebut. Seorang wanita berusia
sekitar 40-an tengah bolak-balik di dapur. Tidak adanya sekat yang memisahkan
dua ruang tersebut, membuat ia bisa mendengar jelas laporan yang sedang
dibacakan oleh pembawa berita. Sembari menyeduh teh hangat, matanya sesekali
melirik ke arah televisi. Terdengar helaan nafas panjang yang keluar dari
mulutnya.
Seorang
pemuda dengan seragam khas SMA, keluar dari kamarnya. Ia melirik sang ibu yang
berkutat dengan sesuatu entah apa –menurutnya, sebelum melenggang ke arah sofa
di ruang tengah. Mendecih melihat apa yang tengah ditonton ibunya, pemuda itu
mengganti channel televisi sesuai dengan acara kesukaannya.
“Kamu
itu, kalau ada orang tua nonton TV jangan disela”, ucap wanita yang tampaknya
sudah selesai dengah seduhan tehnya. Ia berjalan menghampiri meja makan dan
mulai menata piring untuk sarapan. “Kamu nggak sarapan?”, tanyanya kemudian.
“Iya”,
jawab pemuda yang masih berkutat dengan channel televisi.
“Kamu
lihat berita tadi?”
“Berita
apa?”
“Makanya
sering nonton berita, jangan kartun terus.”
Tak
menghiraukan omongan ibunya, ia malah berjalan ke arah meja makan. Digesernya
salah satu kursi disana, sebelum kembali mendengar ibunya melanjutkan bicara.
“Kalau
mau sekolah hati-hati. Banyak kecelakaan sekarang. Jalanan ramai terus. Apalagi
kamu pakai motor.”
“Itukan
karena nggak hati-hati bu, lagian sekolahku kan deket”, jawab si pemuda sambil
menyantap makanannya.
“Makanya
kamu juga hati-hati. Kalau bisa jangan mepet kalau mau berangkat. Jalan penuh.”
“Iya
bu.”
Jarum
panjang jam dinding di ruang tamu menunjuk angka 10, sedangkan jarum pendek ada
pada angka 6. Pukul 6:50. Jam tujuh kurang sepuluh menit. Andi baru saja
mengeluarkan motor bebeknya dari rumah. Dengan santai ia memanaskan masin
motornya. Seragamnya rapi. Ransel hitam sudah tersampir di pundaknya. Tak lupa
helm merek terkenal tersemat di kepalanya. Ia sudah siap berangkat sekolah.
Deru
motor mampir di indra pendengaran Rohmah. Ia berlari keluar saat mendengar kalau
mesin motor tersebut berasal dari halaman rumahnya.
“Kamu
mau berangkat jam berapa?”, ujarnya saat sampai di pintu depan.
“Bentar
lagi.”
“Bentar
laginya jam berapa? Ini sudah siang. Kamu mau terlambat?”
“Ih...
bu di sekolah juga masih sepi.”
“Sepi
bukan berarti nggak ada orang Ndi?”
“Ibu
tenang aja, nggak akan terlambat kok!”
“Tapi
kan lebih baik berangkat awal. Daripada kebut-kebutan di jalan. Jam sekarang
itu jalanan ramai, banyak anak sekolah yang ngebut juga. Kalau nggak hati-hati
nanti celaka.”
“Bu..
sekolah Andi itu deket. Ibu tenang aja deh.”
“Kamu
itu kalau dibilangin ngeyel. Ibu itu khawa..”
“Iya
bu iya... Andi berangkat. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam.”
Rohmah
hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan putranya. Memang susah kalau diajak
bicara, fikirnya. Ia tatap keberangkatan Andi ke sekolahnya sampai hilang di
tikungan. Sebenarnya bukan kali ini saja ia menasehati Andi agar berangkat
lebih awal. Kemarin bahkan ia sampai ribu dengan anaknya agar mau berangkat
pagi. Namun dasar Andi, omongan seperti itu hanya berlaku kemarin saja. Kadang
ia berfikir, apa karena sekarang Andi berangkat dengan motor, makanya lebih
suka berangkat siang.
Menghela
nafas lagi, ia berbalik dan kembali ke pekerjaannya. Tugas ibu rumah tangga.
Tapi, belum sampai lima menit, suara seseorang yang berteriak dari arah depan
memecah konsentrasinya. Dengan sedikit penasaran ia pun keluar, meninggalkan
sapu di samping sofa ruang tengah.
“Rohmah...”
“Wak
Idin. Ada apa?”
“Andi...
Andi...”
“Andi
kenapa?”
“Ayo
ikut!”, ucap seseorang yang dipanggil Wak Idin. Tangannya meraih tangan Rohmah
dan menariknya. Rohmah yang kaget hanya kebingungan sembari mengikuti langkah
orang yang menariknya.
“Andi?”.
Matanya terbelalak begitu sampai di tempat tujuan. Tubuhnya lemas. Ia ambruk di
sebelah tetangganya. Nafasnya seolah berhenti melihat kejadian dihadapannya.
Otaknya mencerna dengan lambat peristiwa tersebut. Andi terkapar penuh darah di
samping pohon besar di pinggir jalan. Motor yang tadi ditumpanginya menindih
kaki kirinya.
Tak
bisa bicara apa-apa. suara Rohmah seperti tertelan begitu saja. Air mata tak
bisa dibendung lagi Rohmah menangis keras. Ia tidak percaya dengan apa yang
dilihanya. Samar-samar beberapa suara lewat telinganya. Ada yang yang menelefon
ambulan. Ada yang bertanya penasaran. Juga suara yang lamat-lamat mencoba
menenangkan jiwanya.
“Kamu
sabar yah..”
“Kenapa...”,
sebuah suara lain.
“Andi
kecelakaan”, kembali sebuah suara berbisik.
“Iya,
ada truk dari sana. Kayaknya sih mau menghindar. Tapi motornya oleng, terus
nabrak pohon.”
Suara
itu tidak keras tapi cukup membuat seluruh tubuhnya membeku kaku. Ingatannya
kembali pada berita pagi tadi. Ia benar-benar syok sekarang. Matanya melotot
melihat tubuh Andi yang terbujur kaku dihadapannya. Air matanya semaki deras.
“Apa
ini...?”, ucapnya sebelum kegelapan mengambil alih kesadarannya.
*****
Selasa pagi kemarin, 25 Agustus 2015,
sebuah sepeda motor menabrak pohon besar di pinggir jalan. Kecelakaan yang
terjadi di Jalan Raya Kemantra ini merenggut korban jiwa, seorang pelajar SMA N
1. Menurut saksi mata, sebelumnya motor yang ditumpangi korban melaju sangat
cepat dan oleng kemudian menabrak pohon untuk menghindari truk yang melintas
berlawanan arah.
SEKIAN
Malvica
Diah Rossalia Ruslan. Lahir di Tegal, 15 Desember 1995.
Sekarang sedang menempuh pendidikan tinggi di Universitas Pancasakti Tegal,
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Progdi Pendidikan Bahasa, Sastra
Indonesia dan Daerah. Tinggal di dukuh Pener desa Kertaharja rt 01/III
Kramat-Tegal. Menyukai karya sastra berupa cerpen dan puisi sejak duduk
dibangku sekolah dasar. Nomor telepon: 085647031308. Alamat e-mail: malvicaruslani@yahoo.co.id
atau malvicadiah@gmail.com.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar