SALAH PAHAM
(Malvica Diah Rossalia Ruslan)
Pemeran:
Ary
Luppi
Galuh
Andra
Nuka
Isla
Mika
Karin
Nyai
Dasimah
Mbak
Nisa
Bapak
Ibu
BABAK
I
Lapangan
smping rumah Nyai Dasimah.
Langit
memerah, semakin sore. Angin bertiup pelan.
Beberapa
anak masih bermain petak umpet. Seorang anak terlihat menutup matanya dengan
kedua tangan, yang lain lari bersembunyi.
Luppi : (masih menutup mata)
“...delapan...sembilan...sepuluh!!! Sudah??!!”
Hening.
Tak ada jawaban.
Luppi : (mulai membuka mata) “Sudah
belum??!!”
Masih
tak ada jawaban. Melirik kanan kiri. Luppi pergi.
Kosong.
Dibalik
pohon beringin tua. Seorang anak menutup mulutnya dengan tangan kiri. Sesekali
mengintip kearah temannya tadi. Lalu menarik
nafas dalam-dalam.
Tiba-tiba
dari arah kiri.
Luppi : “DDOOORRR!!!!”
Ary : (kaget) “Astaghfirullah!!
Luppi!! Jangan ngagetin dong!”
Luppi : “Hehehe... Yuk cari yang lain.”
Ary : (menghela nafas)
Satu
persatu anak yang tadi bersembunyi ditemukan. Lalu berkumpul ditengah lapangan.
Karin : (jongkok) “Sekarang siapa yang
jaga?”
Isla : “Ary! Tadi yang ketemu
duluan kan Ary. Berarti yang jaga Ary.”
Ary : “Iya, iya” (menutup mata
dengan kedua tangan) “Sat..”
KLONTANG.
Dari arah rumah Nyai Dasimah.
Seekor
kucing melesat. Nyai dasimah keluar dengan sapu ditangan kakannya.
Nyai
Dasimah : “Kucing sialan!! Nggak punya
tata krama! Minggat kamu! Minggat!!”
Anak-anak
melihat. Diam.
Nyai
Dasimah : (melirik anak-anak) “Apa
lihat-lihat! Mau tak samplong juga kamu!”
Anak-anak : (masih diam)
Nyai
Dasimah : “Pulang sana! Dasar bocah
rusuh!” (masuk)
Ary : “Huuu....”
Nyai
Dasimah keluar lagi. Membawa ember berisi air.
Nyai
Dasimah : (siap menyiram) “Pulang sana!
Mau tak siram heh!”
Ary : (maju) “Apaan sih Nyai!”
Nyai
Dasimah : “Heh bocah! Pulang ya pulang!”
Ary : “Iya, iya. Jangan sewot
dong. Gitu aja marah. Dasar nenek-nenek!”
BYUURRR!!
Anak-anak
lari menjauh. Termasuk Ary.
Nyai
Dasimah : (teriak) “Dasar bocah edan!!”
Nyai
Dasimah masuk.
Kosong.
BABAK
II
Di
jalan. Rombongan Ary berhenti sejenak. Mengambil nafas.
Isla : (ngos-ngosan) “Huh tuh
orang... udah tua juga...”
Mika : “Heh Isla! Jangan ngomong
gitu. Nggak baik!”
Ary : “Aduh Mika sayang! Dia tuh
yang nggak baik. Emang lapangan punya dia. Enak aja ngusir-ngusir!
Mika : (menepuk pundak Ary) “Udahlah.
Lagian udah sore. Mau maghrib.”
Galuh : (menepuk jidat) “Ya ampun!”
Andra : “Kenapa Luh?”
Galuh : “Aku pulang dulu, Ndra!” (lari)
Nuka : “Kenapa Galuh?”
Andra : (diam)
Nuka : “Woy Ndra! Jawab dong!”
Andra : “Mana ane tahu! Bahlul ente!
Cari tahu sendiri sono!”
Nuka : “Wah nantangin! Maju sini kalau
berani!”
Andra : “Ayo siapa takut!’
Karin : “Andra! Nuka! Udah deh! Pulang
sana, mau maghrib. Yuk Lup!” (menggandeng Luppi)
Luppi : “Pulang Ry!” (melambai pada
Ary)
Satu
persatu anak-anak tadi pulang. Ary sendirian.
Mbak
Nisa lewat.
Mbak
Nisa : (menepuk pundak Ary) “Ary!”
Ary : (menoleh) “Eh mbak Nisa.
Kemana mbak?”
Mbak
Nisa : “Masjid. Ikut?”
Ary : (bingung) “Emang udah
adzan?”
Mbak
Nisa : “Dari tadi.”
Ary : “Astaghfirullah! Pulang dulu
mbak!” (lari)
Mbak
Nisa : (geleng-geleng kepala)
Kosong.
BABAK
III
Ba’da
Isya’. Lapangan samping rumah nyai Dasimah (lagi).
Gelap.
Angin sedikit kencang. Suara gemerisik daun menambah seram suasana.
Rombongan
Ary berhenti didekat tumpukan batu besar.
Mika : (memeang tengkuk) “Eh, kok
jadi serem ya?”
Ary : (melirik Mika) “Serem gimana
Mik?”
Mika : “Rasanya gimana gitu?”
Andra : “Alaahh... paling kamu aja yang
penakut.”
Mika : “Enggak kok! Beneran deh.
Anginnya aja nggak biasa.”
Karin : “Perasaan kamu kali.”
Isla : “Iya. Perasaan kamu aja
kali.”
Galuh : “Tapi bener lho! Anginnya emang
nggak enak banget. Terus langit juga gelap. Padahal belum ada jam 8.”
Mika : (mengusap tengkuk) “Tuh kan
bener!”
Galuh : (mengangguk) “He-eh, apalagi
nih, kita lewat lapangan sebelah rumah nyai Dasimah.”
Karin : “Emang kenapa?”
Galuh : “Kamu nggak tahu, Karin? Kata
orang kan pohon beringin tua itu ada penunggunya” (menunjuk pohon beringin
tua).
Isla : “Masa?”
Mika : “Galuh! Jangan nakutin deh!”
(merinding)
Karin : “Mana ada yang begituan.”
Galuh : “Ish.. nggak percayaan banget
sih kamu Rin!”
Luppi : (menepuk pundak Mika)
Mika : (kaget) “AAA...!! Luppi!!
Nggak lucu tahu!”
Ary : (tertawa) “Hahaha... lagian
sama begituan takut. Kalau takut, ntar setannya beneran nongol lho! WAAA..!!”
Mika : “ARY!!!”
Semua : (tertawa)
Mika : (marah)
Ary : “Ciee.. yang marah. Nanti tuanya
kaya nyai Dasimah lho! Hahaha...!!”
Semua
tertawa. Mika merengut. Nuka diam, mengamati pohon beringin tua.
Sekelebat
bayangan mendekati pohon beringin tua. Rambutnya panjang sepinggang. Mengenakan
pakaian putih. Wajahnya menunduk.
Nuka : (mencolek Ary) “Ry! Ry!”
Ary : (menoleh) “Apaan sih Nuka!”
Nuka : “Apaan tuh Ry?” (menunjuk pohon
beringin)
Ary
melihat pohon beringin. Tiba-tiba diam. Yang lain ikut menoleh pada pohon
beringin. Lalu diam semua.
Sementara
itu, didekat pohon beringin. Seseorang mencari sesuatu.
Nyai
Dasimah : “Kok nggak ada yah! Padahal tadi
jatuh disini?”
Nyai
Dasimah menoleh pada sekumpulan anak yang mematung didekat tumpukan batu besar.
Kemudian perlahan mendekat.
Kembali
ke anak-anak. Anak-anak masih diam. Bayangan itu mendekat.
Masih
diam. Semakin dekat.
Diam
lagi. lebih dekat.
Mulai
gemetar. Sangat dekat.
Ary : (menjerit) “AAA...!!!”
Mika : (lari)
Galuh : (lari)
Isla : (lari)
Karin
: (lari)
Andra : (lari)
Luppi : (lari)
Ary : (lari)
Bayangan : (menarik tangan Nuka)
Nuka : (menjerit) “AAA...!!!”
Kosong.
BABAK
IV
Ruang
keluarga. Bapak, ibu, mbak Nisa menonton TV.
Ary
masuk tiba-tiba. Ngos-ngosan.
Bapak,
ibu, mbak Nisa kaget.
Bapak : “Kenapa Ry?”
Ary : (ngos-ngosan) “Tadi.. ada..
putih-putih..”
Ibu : “Maksud kamu apa?”
Ary : “Dideket rumah.. rumah..
nyai.. Dasimah..”
Ibu : (menyodorkan air) “Minum
dulu.”
Ary : (minum)
Bapak : “Ada apa?”
Ary : “Tadi ada putih-putih..
dideket pohon beringin. Samping rumah nyai Dasimah. Itu lho, yang pohon paling
besar dilapangan.”
Mbak
Nisa : (tertawa) “Hahaha...!!”
Ary : (merengut) “Ihh.. mbak Nisa!
Serius deh! Yang lain juga lihat kok!”
Mbak
Nisa : (tertawa) “Hahaha.. kamu sih,
sama putih-putih aja takut.”
Ary : “Tuh bu, mbak Nisa tuh!”
Ibu : “Nisa!”
Mbak
Nisa : “Maaf, maaf. Lagian, mana ada
putih-putih.”
Bapak : “Hmm.. lain kali jangan lari.
Kalau perlu putih-putihnya ajak ngomong dong.”
Mbak
Nisa : (tertawa makin keras)
“Hahaha...!! Bener tuh!”
Ary : (merajuk) “Bu....”
Mbak
Nisa : “Makanya jangan jail.”
Ary : “Nggak kok! Siapa yang
jail!”
Mbak
Nisa : (menunjuk Ary) “Tuh, mukamu
kan jail. Makanya setannya nongol. Hahaha...!!”
Ary : “Bu....”
Ibu : “Nisa! Bapak jangan diem
aja dong!”
Mbak
Nisa : (masih tertawa)
Bapak : “Sudah, sudah.”
Kosong.
BABAK
V
Besoknya.
Berangkat sekolah. Lewat lapangan samping rumah nyai Dasimah.
Tiba-tiba
berhenti. Ary. Galuh, Luppi, Isla, melirik pohon beringin.
Isla : (takut-takut) “Hiihh... Gila
ah! Nggak nyangka lho kalau benerean ada penunggunya.”
Luppi : “Makanya jangan iseng!”
Galuh : “Nggak lagi-lagi deh!”
Ary : (diam)
Karin,
Andra, Mika, Nuka, mendekat.
Andra : (menepuk bahu Isla) “Isla, ada
apan nih? Kok pada diem aja?”
Isla : (menunjuk pohon beringin)
“Padahal kan kita sering main disini. Kok nggak sadar ada penunggunya ya?”
Mika :
“Jangan mulai deh! Kalau muncul lagi gimana?”
Karin : “Mana ada hantu yang nongolnya
pagi. Yang bener aja kamu!”
Ary : (melirik Nuka) “Nuka kenapa?
Masih ngantuk ya?”
Nuka ; (menguap) “Hooammm... iya.
Kalian sih!”
Galuh : “Lho kok kita sih!”
Nuka : “Ya iya. Kalian langsung lari
gitu aja sih!”
Semua : (bingung) “Eh...??”
Nuka : “Hhhh.. semalem tuh ternyata
nyai Dasimah. Tusuk kondenya ilang deket pohon beringin situ.”
Semua : (kaget) “HAH..!!”
Nuka : “Aku akhirnya bantuin nyari
sampai malem. Huh! Mana ada hantu. Yuk ah!”
Semua
anak beranjak pergi. Ary melirik pohon beringin. Tersenyum kecil.
Ary : “Mana ada!”
Lalu
benar-benar pergi.
Kosong.
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar