LAPORAN
HASIL PENELITIAN PERKEMBANGAN BAHASA ANAK USIA 3 TAHUN
Disusun
untuk memenui tugas Mata Kuliah Psikolinguistik yang diampu oleh Khusnul
Khotimah, M.Pd.
Oleh
:
Malvica
Diah Rossalia Ruslan
1513500031
Semester 5D
Program
Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah
Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas
Pancasakti Tegal
2015
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang Masalah
Pada
hakikatnya, bahasa merupakan alat komunikasi yang memiliki beberapa
karakteristik. Karakteristik tersebut yaitu: sistemik, arbitrer/manasuka, bunyi
ujaran, manusiawi dan komunikatif. Bahasa bersifat sistemik karena bahasa
diatur oleh sistem bunyi dan sistem makna. Selain itu, penyusunan suatu bahasa
juga harus mengikuti kaidah tertentu, seperti fonologi, morfologi, sintaksis,
semantik dan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan. Suatu bahasa juga bersifat
manasuka/arbitrer, artinya unsur bahasa dipilih secara acak tanpa dasar yang
pasti oleh masyarakat pengguna bahasa. Bahasa berupa bunyi ujaran, artinya
berupa ucapan sedangkan media bahasa adalah bunyi-bunyi bahasa secara lisan
maupun lambang bunyi /tulisan.
Selain
berkaitan dengan pengertian, hakikat bahasa juga berkaitan dengan fungsi. Fungsi
bahasa diantaranya fungsi informasi, fungsi ekspresi, fungsi adaptasi dan
integrasi, serta fungsi kontrol sosial. Fungsi informasi, artinya bahasa
berfungsi untuk menyampaikan informasi timbal balik antaranggota masyarakat.
Fungsi ekspresi, artinya bahasa berfungsi menyalurkan atau mengungkapkan
perasaan, sikap, gagasan dan lain-lain. Fungsi adaptasi dan integrasi, artinya
bahasa berfungsi untuk menyesuaikan dan membaurkan diri dengan anggota
masyarakat. Fungsi kontrol sosial, artinya bahasa berfungsi untuk memengar uhi
sikap dan pendapat orang lain.
Bahasa
manusia berkembang sejak masih anak-anak. Umumnya dimulai dari kosa kata yang
mudah dan sering didengar oleh anak di lingkungan sekitarnya, seperti
lingkungan keluarga. Perkembangan bahasa anak sejalan dengan perkembangan
biologisnya baik secara fisik maupun secara psikis. Bahasa anak berkembang
secara bertahap sesuai dengan perkembangan bahasa dan pikiran anak. Anak
memeroleh bahasa melalui segala seuatu yang didengar, dilihat, diraba,
dirasakan dan melalui indra penciuman.
Pieget
berpendapat bahwa kemampuan berpikir anak dapat mendorong perkembangan bahasa.
Menurut Vygostky, bahasa orang dewasa sangat berpengaruh pada perkembangan
bahasa dan pikiran anak. Bahasa yang dimiliki anak dapat mendorong perkembangan
pikiran anak.
Cara
anak menggunakan bahasa akan berpengaruh pada perkembangan sosial, emosional,
fisik, dan kognitif. Menyimak, berbicara, membaca dan menulis melibatkan proses
kognitif (berpikir) dan kosa kata yang sama.
2.
Rumusan
Masalah
Bagaimana
perkembangan bahasa anak di usia 3 tahun?
3.
Tujuan
Penulisan Laporan
Laporan
ini ditulis guna memenuhi tugas mata kuliah Psikolinguistik tentang perkembangan
bahasa anak usia BALITA (Bawah Lima Tahun) yang diampu oleh Khusnul Khotimah,
M.Pd..
4.
Manfaat
Penelitian
Manfaat
penulisan laporan ini adalah untuk mengetahui bagaimana perkembangan bahasa
anak usia BALITA. Khususnya usia tiga tahun. Mulai dari bahasa yang
permulaannya mendadak, bahasa yang diajarkan ibu, bahasa pralinguistik, bahasa
satu-kata, bahasa dua-kata, sampai bahasa dengan banyak kata.
5.
Metode
Penelitian
Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan mengamati bagaimana si anak dalam
berbicaara. Selain itu juga dengan bertanya langsung pada ibunya.
6.
Objek,
Tempat dan Waktu Penelitian
BALITA
yang menjadi objek penelitian ini adalah Muhammad Rafli Azzami usia 3 tahun
lebih 2 bulan. Pengamatan dilakukan pada hari Minggu, 29 November 2015di rumah
Azzami.
BAB II
PEMBAHASAN
Seperti
telah disebutkan sebelumnya, perkembangan bahasa anak dipengaruhi oleh
perkembangan biologisnya baik fisik
maupun psikis. Pada usia tertentu, seorang anak akan mulai mengucapkan beberapa
kata yang biasa ia dengar dari sekitarnya. Kemudian akan secara bertahap,
mendapat pengajaran dari orang tua tentang kata-kata yang sekiranya bisa mereka
tirukan. Contoh yang paling sering terjadi adalah penyebutan ‘mama’ dan ‘papa’
yang kemudian hanya bisa dilafalkan dengan ‘ma’ dan ‘pa’. Contoh lainnya adalah
‘mam’, biasanya digunakan untuk kata ganti makan.
Berikut
ini adalah hasil laporan hasil pengamatan perkembangan bahasa anak usia 3
tahun:
1.
Bahasa
Anak yang Permulaannya Mendadak
Seorang
anak mulai berkosa kata sesuai dengan apa yang biasa ia dengar. Pada fase ini
proses yang terjadi adalah proses asimilasi. Artinya anak akan mulai mengenali
dan memahami apa saja yang bisa dilihat maupun didengar dengan pola pikiran
yang telah ada.
Dilihat
dari hasil observasi, mula-mula Azzami hanya menguasai ‘ma’, ‘pa’ dan ‘o’. Kata-kata
tersebut mengindikasikan bahwa Azzami mulai dari suku kata yang mudah diucapkan
lebih dulu. Hal itu juga karena apa yang sering ia dengar dari orang tuanya.
Penyebutan
‘ma’, ‘pa’ dan ‘o’, bisa saja merujuk pada panggilan ‘mama’ dan ‘bapa’. Karena
huruf ‘m’ saat diucapkan lebih tipis daripada ‘p’, maka kata yang pertama kali
dikuasai oleh Azzami adalah kata yang mengandung guruf ‘m’ yaitu ‘ma’. Kemudian
‘o’, meskipun bukan berupa suku kata tapi Azzami akan mengucapkannya ketika
meminta sesuatu.
2.
Bahasa
yang Diajarkan Ibu/Keluarga
Kemudian,
setelah Azzami mulai menguasi kosa kata dengan dua huruf, maka orang
terdekatnya pun akan mulai mengajari bahasa-bahasa yang baru. Untuk kalangan
masyarakat desa, bahasa yang pertama kali diperkenalkan pada anak adalah bahasa
Jawa.
Bahasa-bahasa
seperti ‘maem’ yang kemudian oleh Azzami diucapkan dengan ‘mam-mam’. Adapun
selain ‘maem’ juga kata-kata yang merujuk pada anggota keluarga, seperti
‘simbah putri’, ‘simbah kakung’, ‘mamas’ dan ‘mbak’.
3.
Bahasa
Pralinguistik
Pada
bahasa pralinguistik ini, Azzami mulai menirukan istilah-istilah yang ada
disekitarnya. Seperti suara motor atau mobil. ‘Ngeng-ngeng’ merujuk pada mobil
sedangkan ‘mrem-mrem’ merujuk pada motor. Selain itu, bahasa-bahasa yang
sebelumnya telah diajarkan orang tua. Karena pelafalan yang belum sempurna
mengakibatkan hanya sebagian kata saja yang mampu diucapkan oleh Azzami. Kata ‘putri’
misalnya, berubah menjadi ‘uti’ juga ‘kakung’ menjadi ‘ung’.
Dalam
bahasa pralinguistik pula, Azzami mulai mengucapkan bahasa-bahasa yang hanya
dia sendiri yang dapat mengetahuinya. Kata ‘kokok’, biasanya diucapkan apabila
ia sedang marah diikuti dengan ekspresi wajah yang kesal dan hampir menangis.
Hal ini menunjukan bahwa perkembangan bahasa dapat dipengaruhi oleh
perkembangan psikologi anak.
4.
Bahasa
Satu-kata
Setelah
sedikit demi sedikit menguasai kata-kata yang diajarkan orang tuanya meski
hanya sebagian dan tidak jelas. Seiring dengan perkembangan fisiknya, Azzami
mulai mampu menguasai kata-kata tersebut secara utuh. Itupun masih bisa
dikatakan belum sempurna karena dalam pengucapannya, ada beberapa huruf yang
tidak ikut serta.
Contonya
pada kata ‘simbah kakung’ menjadi ‘a’ung’. Juga pada kata-kata sulit seperti
‘nyuwun’ yang menjadi ‘uwun’. Pada bahasa satu kata ini juga, Azzami mulai bisa
mengucapkan fonem-fonem yang tebal seperti ‘b’ dalam kata ‘bubu’ (tidur) dan
dalam kata ‘obih’ atau mobil. Selain itu, Azzami juga mulai bisa menyebutkan
namanya sendiri ‘Ami’.
5.
Bahasa
Dua-kata
Dalam
bahasa dua kata, Azzami mulai bisa menggabungkan kata-kata yang mudah.
Kata-kata yang sebelumnya telah diajarkan oleh orang tuanya. Misal saat meminta
sesuatu. ‘Ami uwun’ (Zami nyuwun)
atau sejenisnya, kata-kata ini mudah dimengerti oleh orang lain karena
pengucapannya yang mulai jelas dan hanya terdiri dari dua kata. Sehingga Azzami
tidak harus memberi jeda yang panjang untuk memikirkan kata selanjutnya.
6.
Bahasa
Banyak Kata
Berbeda
dengan bahasa dua kata. Pada bahasa banyak kata, meskipun Azzami sudah bisa
merangkai beberapa kata dalam satu kalimat tapi pengucapannya biasanya tidak
jelas atau tersendat. Ini dikarenakan Azzami harus berpikir terlebih dahulu sebelum
mengucapkan sesuatu.
Contohnya
seperti ‘Wonten e sawung e teng mriku, niku’ (Ada ayam disana, itu). Penjedaan
dalam kalimat tadi dikarenakan proses berpikirnya lebih cepat daripada proses
pengucapannya. Akibatnya kalimat ang diucapkan menjadi tersendat. Bisa juga
terjadi sebaliknya, dimana proses pengucapnnya lebih cepat sehingga kata yang diucapkan
tidak jelas. Misal, ‘Ma, tumbas anyonya’ (Ma, tumbas latopnya).
BAB III
PENUTUP (SIMPULAN)
Bahasa
anak berkembang seiring dengan perkembangan biologisnya, baik secara fisik
maupun secara psikis. Mulanya, seorang anak akan mengusai kosa kata yang mudah
dalam pengucapannya seperti ‘ma’ dan ‘pa’. Baru setelah itu orang tua mulai
mengajari anak dengan kata-kata yang mudah dan familiar. Biasanya, bahasa yang
diajarkan adalah bahasa yang digunakan dilingkungan sekitar. Pada kasus ini
adalah bahasa Jawa. Saat proses pengajaran bahasa oleh orang tua, anak juga
mulai mengamati sekitarnya dan menirukan apa yang didengar maupun dilihat. Psikologi
anak juga akan berperan serta dalam mengungkapkan ekspresi anak. Seperti kata
‘kokok’ yang mengekspresikan marah.
Setelah
anak menguasai sedikit demi sedikit kata-kata yang diajarkan, anak akan
menggunakannya dalam berkomunikasi. Itu pun terkadang tersendat-sendat atau
bisa juga tidak jelas. Hal ini dikarenakan proses berpikir anak yang terlalu
cepat daripada proses pengucapannya ataupun sebaliknya.
LAMPIRAN
Identitas
Anak
Nama :
Muhammad Rafli Azzami
Usia :
3 tahun 2 bulan
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Desa
Kertaharja (dukuh Pener) rt 01/III Kramat-Tegal
Nama orang tua :
·
Ayah : Mulyanto
·
Ibu : Indah Rini
Hubungan dengan penulis : Tetangga
Kak boleh kasih tau daftar pustakanya gak?
BalasHapus