Selasa, 07 Juni 2016

LAPORAN HASIL PENELITIAN PERKEMBANGAN BAHASA ANAK USIA 3 TAHUN




LAPORAN HASIL PENELITIAN PERKEMBANGAN BAHASA ANAK USIA 3 TAHUN

Disusun untuk memenui tugas Mata Kuliah Psikolinguistik yang diampu oleh Khusnul Khotimah, M.Pd.

Oleh :
Malvica Diah Rossalia Ruslan
1513500031
Semester  5D

Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Pancasakti Tegal
2015



BAB I
PENDAHULUAN

1.    Latar Belakang Masalah
Pada hakikatnya, bahasa merupakan alat komunikasi yang memiliki beberapa karakteristik. Karakteristik tersebut yaitu: sistemik, arbitrer/manasuka, bunyi ujaran, manusiawi dan komunikatif. Bahasa bersifat sistemik karena bahasa diatur oleh sistem bunyi dan sistem makna. Selain itu, penyusunan suatu bahasa juga harus mengikuti kaidah tertentu, seperti fonologi, morfologi, sintaksis, semantik dan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan. Suatu bahasa juga bersifat manasuka/arbitrer, artinya unsur bahasa dipilih secara acak tanpa dasar yang pasti oleh masyarakat pengguna bahasa. Bahasa berupa bunyi ujaran, artinya berupa ucapan sedangkan media bahasa adalah bunyi-bunyi bahasa secara lisan maupun lambang bunyi /tulisan.
Selain berkaitan dengan pengertian, hakikat bahasa juga berkaitan dengan fungsi. Fungsi bahasa diantaranya fungsi informasi, fungsi ekspresi, fungsi adaptasi dan integrasi, serta fungsi kontrol sosial. Fungsi informasi, artinya bahasa berfungsi untuk menyampaikan informasi timbal balik antaranggota masyarakat. Fungsi ekspresi, artinya bahasa berfungsi menyalurkan atau mengungkapkan perasaan, sikap, gagasan dan lain-lain. Fungsi adaptasi dan integrasi, artinya bahasa berfungsi untuk menyesuaikan dan membaurkan diri dengan anggota masyarakat. Fungsi kontrol sosial, artinya bahasa berfungsi untuk memengar uhi sikap dan pendapat orang lain.
Bahasa manusia berkembang sejak masih anak-anak. Umumnya dimulai dari kosa kata yang mudah dan sering didengar oleh anak di lingkungan sekitarnya, seperti lingkungan keluarga. Perkembangan bahasa anak sejalan dengan perkembangan biologisnya baik secara fisik maupun secara psikis. Bahasa anak berkembang secara bertahap sesuai dengan perkembangan bahasa dan pikiran anak. Anak memeroleh bahasa melalui segala seuatu yang didengar, dilihat, diraba, dirasakan dan melalui indra penciuman.
Pieget berpendapat bahwa kemampuan berpikir anak dapat mendorong perkembangan bahasa. Menurut Vygostky, bahasa orang dewasa sangat berpengaruh pada perkembangan bahasa dan pikiran anak. Bahasa yang dimiliki anak dapat mendorong perkembangan pikiran anak.
Cara anak menggunakan bahasa akan berpengaruh pada perkembangan sosial, emosional, fisik, dan kognitif. Menyimak, berbicara, membaca dan menulis melibatkan proses kognitif (berpikir) dan kosa kata yang sama.

2.    Rumusan Masalah
Bagaimana perkembangan bahasa anak di usia 3 tahun?

3.    Tujuan Penulisan Laporan
Laporan ini ditulis guna memenuhi tugas mata kuliah Psikolinguistik tentang perkembangan bahasa anak usia BALITA (Bawah Lima Tahun) yang diampu oleh Khusnul Khotimah, M.Pd..

4.    Manfaat Penelitian
Manfaat penulisan laporan ini adalah untuk mengetahui bagaimana perkembangan bahasa anak usia BALITA. Khususnya usia tiga tahun. Mulai dari bahasa yang permulaannya mendadak, bahasa yang diajarkan ibu, bahasa pralinguistik, bahasa satu-kata, bahasa dua-kata, sampai bahasa dengan banyak kata.

5.    Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan mengamati bagaimana si anak dalam berbicaara. Selain itu juga dengan bertanya langsung pada ibunya.

6.    Objek, Tempat dan Waktu Penelitian
BALITA yang menjadi objek penelitian ini adalah Muhammad Rafli Azzami usia 3 tahun lebih 2 bulan. Pengamatan dilakukan pada hari Minggu, 29 November 2015di rumah Azzami.













BAB II
PEMBAHASAN

Seperti telah disebutkan sebelumnya, perkembangan bahasa anak dipengaruhi oleh perkembangan  biologisnya baik fisik maupun psikis. Pada usia tertentu, seorang anak akan mulai mengucapkan beberapa kata yang biasa ia dengar dari sekitarnya. Kemudian akan secara bertahap, mendapat pengajaran dari orang tua tentang kata-kata yang sekiranya bisa mereka tirukan. Contoh yang paling sering terjadi adalah penyebutan ‘mama’ dan ‘papa’ yang kemudian hanya bisa dilafalkan dengan ‘ma’ dan ‘pa’. Contoh lainnya adalah ‘mam’, biasanya digunakan untuk kata ganti makan.
Berikut ini adalah hasil laporan hasil pengamatan perkembangan bahasa anak usia 3 tahun:
1.    Bahasa Anak yang Permulaannya Mendadak
Seorang anak mulai berkosa kata sesuai dengan apa yang biasa ia dengar. Pada fase ini proses yang terjadi adalah proses asimilasi. Artinya anak akan mulai mengenali dan memahami apa saja yang bisa dilihat maupun didengar dengan pola pikiran yang telah ada.
Dilihat dari hasil observasi, mula-mula Azzami hanya menguasai ‘ma’, ‘pa’ dan ‘o’. Kata-kata tersebut mengindikasikan bahwa Azzami mulai dari suku kata yang mudah diucapkan lebih dulu. Hal itu juga karena apa yang sering ia dengar dari orang tuanya.
Penyebutan ‘ma’, ‘pa’ dan ‘o’, bisa saja merujuk pada panggilan ‘mama’ dan ‘bapa’. Karena huruf ‘m’ saat diucapkan lebih tipis daripada ‘p’, maka kata yang pertama kali dikuasai oleh Azzami adalah kata yang mengandung guruf ‘m’ yaitu ‘ma’. Kemudian ‘o’, meskipun bukan berupa suku kata tapi Azzami akan mengucapkannya ketika meminta sesuatu.
2.    Bahasa yang Diajarkan Ibu/Keluarga
Kemudian, setelah Azzami mulai menguasi kosa kata dengan dua huruf, maka orang terdekatnya pun akan mulai mengajari bahasa-bahasa yang baru. Untuk kalangan masyarakat desa, bahasa yang pertama kali diperkenalkan pada anak adalah bahasa Jawa.
Bahasa-bahasa seperti ‘maem’ yang kemudian oleh Azzami diucapkan dengan ‘mam-mam’. Adapun selain ‘maem’ juga kata-kata yang merujuk pada anggota keluarga, seperti ‘simbah putri’, ‘simbah kakung’, ‘mamas’ dan ‘mbak’.
3.    Bahasa Pralinguistik
Pada bahasa pralinguistik ini, Azzami mulai menirukan istilah-istilah yang ada disekitarnya. Seperti suara motor atau mobil. ‘Ngeng-ngeng’ merujuk pada mobil sedangkan ‘mrem-mrem’ merujuk pada motor. Selain itu, bahasa-bahasa yang sebelumnya telah diajarkan orang tua. Karena pelafalan yang belum sempurna mengakibatkan hanya sebagian kata saja yang mampu diucapkan oleh Azzami. Kata ‘putri’ misalnya, berubah menjadi ‘uti’ juga ‘kakung’ menjadi ‘ung’.
Dalam bahasa pralinguistik pula, Azzami mulai mengucapkan bahasa-bahasa yang hanya dia sendiri yang dapat mengetahuinya. Kata ‘kokok’, biasanya diucapkan apabila ia sedang marah diikuti dengan ekspresi wajah yang kesal dan hampir menangis. Hal ini menunjukan bahwa perkembangan bahasa dapat dipengaruhi oleh perkembangan psikologi anak.
4.    Bahasa Satu-kata
Setelah sedikit demi sedikit menguasai kata-kata yang diajarkan orang tuanya meski hanya sebagian dan tidak jelas. Seiring dengan perkembangan fisiknya, Azzami mulai mampu menguasai kata-kata tersebut secara utuh. Itupun masih bisa dikatakan belum sempurna karena dalam pengucapannya, ada beberapa huruf yang tidak ikut serta.
Contonya pada kata ‘simbah kakung’ menjadi ‘a’ung’. Juga pada kata-kata sulit seperti ‘nyuwun’ yang menjadi ‘uwun’. Pada bahasa satu kata ini juga, Azzami mulai bisa mengucapkan fonem-fonem yang tebal seperti ‘b’ dalam kata ‘bubu’ (tidur) dan dalam kata ‘obih’ atau mobil. Selain itu, Azzami juga mulai bisa menyebutkan namanya sendiri ‘Ami’.
5.    Bahasa Dua-kata
Dalam bahasa dua kata, Azzami mulai bisa menggabungkan kata-kata yang mudah. Kata-kata yang sebelumnya telah diajarkan oleh orang tuanya. Misal saat meminta sesuatu. ‘Ami uwun’ (Zami nyuwun) atau sejenisnya, kata-kata ini mudah dimengerti oleh orang lain karena pengucapannya yang mulai jelas dan hanya terdiri dari dua kata. Sehingga Azzami tidak harus memberi jeda yang panjang untuk memikirkan kata selanjutnya.
6.    Bahasa Banyak Kata
Berbeda dengan bahasa dua kata. Pada bahasa banyak kata, meskipun Azzami sudah bisa merangkai beberapa kata dalam satu kalimat tapi pengucapannya biasanya tidak jelas atau tersendat. Ini dikarenakan Azzami harus berpikir terlebih dahulu sebelum mengucapkan sesuatu.
Contohnya seperti ‘Wonten e sawung e teng mriku, niku’ (Ada ayam disana, itu). Penjedaan dalam kalimat tadi dikarenakan proses berpikirnya lebih cepat daripada proses pengucapannya. Akibatnya kalimat ang diucapkan menjadi tersendat. Bisa juga terjadi sebaliknya, dimana proses pengucapnnya lebih cepat sehingga kata yang diucapkan tidak jelas. Misal, ‘Ma, tumbas anyonya’ (Ma, tumbas latopnya).




BAB III
PENUTUP (SIMPULAN)

Bahasa anak berkembang seiring dengan perkembangan biologisnya, baik secara fisik maupun secara psikis. Mulanya, seorang anak akan mengusai kosa kata yang mudah dalam pengucapannya seperti ‘ma’ dan ‘pa’. Baru setelah itu orang tua mulai mengajari anak dengan kata-kata yang mudah dan familiar. Biasanya, bahasa yang diajarkan adalah bahasa yang digunakan dilingkungan sekitar. Pada kasus ini adalah bahasa Jawa. Saat proses pengajaran bahasa oleh orang tua, anak juga mulai mengamati sekitarnya dan menirukan apa yang didengar maupun dilihat. Psikologi anak juga akan berperan serta dalam mengungkapkan ekspresi anak. Seperti kata ‘kokok’ yang mengekspresikan marah.
Setelah anak menguasai sedikit demi sedikit kata-kata yang diajarkan, anak akan menggunakannya dalam berkomunikasi. Itu pun terkadang tersendat-sendat atau bisa juga tidak jelas. Hal ini dikarenakan proses berpikir anak yang terlalu cepat daripada proses pengucapannya ataupun sebaliknya.








LAMPIRAN

Identitas Anak
Nama                                       : Muhammad Rafli Azzami
Usia                                         : 3 tahun 2 bulan
Jenis kelamin                           : Laki-laki
Alamat                                    : Desa Kertaharja (dukuh Pener) rt 01/III Kramat-Tegal
Nama orang tua                       :
·         Ayah                           : Mulyanto
·         Ibu                               : Indah Rini
Hubungan dengan penulis      : Tetangga

1 komentar: