Tradisi ‘Udun-Udunan’
Pener -
Minggu (17/4) Muhammad Al Ghazali memasuki usia 7 bulan. Ibunya, Indah Rini
(30) sibuk membagikan bubur cadil kepada tetangga. Sudah menjadi tradisi, jika
seorang balita memasuki usia 7 bulan, maka diadakan acara udun-udunan. Sebuah
tradisi dimana sang balita untuk pertama kalinya turun dari gendongan ibu.
Udun-udunan adalah sebuah tradisi dimana balita dianggap
siap untuk menapakkan kakinya di atas lemah
(tanah). Bagi masyarakat dukuh Pener, tradisi udun-udunan oleh balita yang
memasuki usia 7 bulan hukumnya wajib. Selain itu, tradisi ini juga sebagai
tanda untuk melestarikan budaya nenek moyang.
Ciri khas
dari tradisi udun-udunan adalah bubur
cadil. Bubur yang dibuat dari tepung ketan dan gula jawa ini, menjadi sajian
wajib dalam acara udun-udunan. Kaki balita yang akan diudunkan, terlebih dahulu ditempelkan pada bubur cadil. Barulah
balita boleh menapak tanah. Bubur cadil tersebut disimbolkan sebagai tanah. Kaki
balita tidak benar-benar ditempelkan pada bubur cadil yang akan dibagikan pada
tetangga.
Masyarakat
dukuh Pener percaya, jika balita yang tidak melakukan tradisi ini dianggap ora ilok atau tidak baik jika langsung belajar
berjalan. Kalau orang Pener bilang dititah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar